Rencana Krismon 1998 dan 4 Naga Kecil Asia

Rencana Krismon 1998 dan 4 Naga Kecil Asia

JAKARTA – Gajah Keuangan Sri Mulyani sudah menyampaikan sinyal adanya resesi . Gejala itu sudah terasa sejak adanya pelambatan ekonomi dengan sebenarnya sudah terlihat dari pembukaan tahun ini.

Institusi Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan memproyeksi perekonomian akan kembali minus dua, 9% hingga 1%. Artinya, Nusantara sudah mengalami dua kali perekonomian minus, setelah sebelumnya pada kuartal II-2020 minus 5, 3%.

Status ketidakstabilan ekonomi ini merupakan status tidak biasa di mana Nusantara alami krisis ekonomi sejak 1998. Dalam buku Oto Biografi Pribadi Ide (Tahun 2016), Mochtar Riady mengisahkan bagaimana situasi krisis ekonomi. Berikut ini kisah selengkapnya semacam dikutip Minggu (27/9/2020).

4 Naga Kecil Asia

Kita seluruh maklum bahwa dari tahun 1960 hingga 2000, selama 40 tarikh, ekonomi Asia telah mengalami tiga kali kemajuan pesat. Dimulai sejak Jepang yang menampung industri padat karya berikut teknologinya dari Amerika Serikat, selanjutnya Jepang merelokasi balik industri padat karya tersebut ke Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura.

Baca Juga:   Ekonomi Daerah Itu Alami Minus Lebih Tinggi dibanding Nasional

Tersebut menjadikan ekonomi mereka meningkat pesat dan dijuluki sebagai “Empat Naga Kecil Asia”.

Lalu, mereka merelokasikan industru padat karya berikut teknologinya ke Thailand, Filipina, Malaysia dan Indonesia, tetapi keempat negara terakhir ini kurang lulus.

Ketika melaksanakan politik ekonomi bebas pada tahun 1990, Tiongkok banyak menampung relokasi pabrik padat karya dan seperangkat teknologinya.

Kebijakan sistem ekonomi pasar bebas Tiongkok yang dibantu seperangkat pengembangan pendidikan dan teknologi di dalam negeri membuat ekonomi Tiongkok dapat dengan cepat mencapai kejayaan gemilang. Diperkirakan Tiongkok sudah melampaui ekonomi “Empat Naga Kecil Asia”, bahkan Jepang sekalipun.

Baca Juga:   Memahami Resesi? Begini Penjelasan Kepala BKF

Ketika perut kali di Asia terjadi gelombang pengalihan industri labour intensive, status politik di Indonesia tidak kondusif karena bernuansa politik anti-Barat jadi tidak mau menangkap kesempatan tersebut.